Pentingnya Pembangunan 3K

Kualitas manusia ditentukan 3K: kapasitas, kapabilitas, dan karakter.

Jumpai manusia begini di Indonesia, apalagi di masa sekarang, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

Kualitas manusia berbeda-beda. Itu sunatullah yang tak bisa diingkari kodratinya. Kehidupan jadi hidup karena keragamannya. Hitam putihnya dunia masing-masing punya pesan. Bila hanya diisi yang pintar-pintar, bisa-bisa pekerjaan terbengkalai. Karena kuli, office boy dan klerikel, yang semuanya pintar, mungkin lebih memilih diskusi dengan majikan ketimbang bersih-bersih. Bila dunia diisi oleh semua yang bodoh, hukum rimba terjadi.

Orang sukses banyak. Namun yang memahami makna di balik sukses tak banyak. Gedung yang kokoh tak bisa berdiri tegak jika tak ada kerikil, semen dan pasir. Ada yang jadi hebat, karena yang lain biasa saja. Ciputra dan Chairul Tanjung tak bisa jadi pengusaha sukses jika tak ada tenaga administratif atau yang terpaksa jadi jongos. Taman yang semua bunganya kuning, karena yang merah atau biru memang tak dikehendaki. Untuk bisa berenang, bebek bukan hanya dianugerahi kaki seperti katak. Tapi harus bersahabat dengan air dan kehidupan.

Saat kesuksesan mulai dinikmati, saat itu pula dirinya terjebak. Sukses yang dinikmati sendirian, itulah kegagalan. Sukses atau gagal punya pesan. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah jika dia tetap rendah hati. Orang kaya bukan terletak pada jumlah hartanya, melainkan pada kemaslahatan yang ditebar. Sukses di karir bukan pada tingginya jabatan, melainkan pada kebijakannya.

Kebijakan dengan kebijaksanaan berbeda. Kebijakan dirumuskan melalui serangkaian proses yang tak mudah membuatnya. Semakin besar lembaga, perusahaan atau negara semakin banyak hal yang harus dipertimbangkan. Yang semua itu terkadang atau banyak juga juga jadi kebijakan di atas kertas. Karena penyelesaian di lapangan tergantung pada ‘kebijaksanaan’ petugas. Hanya dengan ‘tahu sama tahu’, kebijakan lalu lintas jadi tak berarti karena kebijaksanaan petugas di lapangan.

Orang miskin bukan tak punya harta. Keringnya jiwa itulah kemiskinan sesungguhnya. Orang gagal bukan karena tak berhasil capai tujuan, tapi saat tak waspadai kesuksesan itulah kegagalan. Orang sakit bukan hanya melulu meyerang tubuh. Sebab orang gagal ginjal tak berbahaya. Yang jiwanya sakit, itulah yang paling berbahaya. Asset negara dijual, pajak ‘digayusl’, apapun ‘dikadali’ oleh rombongan ‘markus’. Yang jiwanya sakit, keluarga pun terancam.

Hidup ini misteri. Kecuali Allah swt, tak satupun mahluk bisa jamin hidupnya. Ada yang saat sekolah berkecukupan, tapi hidupnya kelak malah selalu sulit. Sebaliknya ada yang saat sekolah selalu sulit, tapi akhirnya jadi atasan. Kanosuke Matsushita meyakini hidup bagai air. Ikuti saja iramanya, begitulah hidup. Artinya orang sekaliber dia, tak risih katakan hidupnya yang juga mengalami pasang surut.

Dalam matematika nilai 10 sempurna. Dalam hidup, itu apes. Seperti dalam permainan kartu, angka 9 disebut qiu. Punya dua padanan 9, qiu-qiu namanya. Dan itulah pemuncaknya. Dalam hidup dua tambah dua, hasilnya tergantung siapa yang mengisi. Sudut pandang markus, setali tiga uang dengan kutu loncat partai. Beda lagi dengan sudut pandang negarawan. Satu tambah satu, bagi kalangan yang makin langka di Indonesia ini, sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan bangsa.

Hidup ini tak mutlak tergantung bahan. Bagaimana memprosesnya itu juga bagian penting. Perlawanan warga Palestina, bagi Israel yang langgengkan daerah caplokannya, mereka adalah pemberontak. Bagi Timur Tengah, mereka mujahid yang pertahankan tanah tumpah darah. Cabai di Jogja bisa terasa manis. Di Padang terasa pedasnya. Kain belacu yang puluhan ribu rupiah, akhirnya bernilai jutaan di tangan Iwan Tirta.

Begitulah manusia, kualitasnya ditentukan 3K: kapasitas, kapabilitas dan karakter. Ketiganya berkait erat, yang bila 3K itu menyatu pada diri seseorang, superlah dia. Ibarat pepatah bilang: ‘Sudah gaharu, cendana pula’. Jumpai manusia begini di Indonesia, apalagi di masa sekarang, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

Yang dijumpai, kebanyakan ceceran-ceceran K. Kapasitasnya baik tapi tak punya kapabilitas. Ibarat dia tahu, tapi tak mau tahu. Sia-sia bukan. Ada yang punya keinginan tapi tak punya kapasitas, sama aja bohong. Yang lebih sulit lagi mencari orang berkarakter. Sementara dunia hanya dipenuhi orang yang punya kapasitas dan kapabilitas tapi tak punya karakter.

Karakter tak lain wujud dari sifat baik. Orang pintar banyak, tapi yang pintar dan baik langka. Orang baik banyak, tapi yang baik dan pintar jarang. Alangkah indahnya sudah pintar, baik lagi. Alangkah ngerinya, bodoh tapi jahat. Yang lebih ngeri lagi, pintar tapi jahat. Yang paling mengerikan, yang bodoh dan pintar berkerjasama untuk lakukan kejahatan.

 

Ahmad Nurhono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: